Dilihat : 36 kali
Tapis Berseri: Melestarikan Budaya Lampung dan Jejak Arsitektur Kuno di Jantung Kota
Pendahuluan: Membedah Makna di Balik "Tapis Berseri"
Setelah menikmati dinamika Teluk Lampung dan kesejukan perbukitan di Bandar Lampung, kini kita akan menjelajahi dimensi yang lebih dalam: identitas budaya. Setiap kota besar di Indonesia memiliki semboyan yang merangkum idealismenya. Bagi ibu kota Provinsi Lampung, semboyan itu adalah "Tapis Berseri."
Secara harafiah, Tapis merujuk pada kain tenun tradisional Lampung yang disulam dengan benang emas—sebuah simbol keagungan, kekayaan, dan martabat. Sementara Berseri adalah akronim dari Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah. Lebih dari sekadar akronim, "Tapis Berseri" mewakili sebuah janji: menjadi kota yang berbudaya luhur (seperti Tapis) sekaligus modern, tertata, dan menjunjung tinggi kualitas hidup.
Artikel ini akan mengupas bagaimana nilai-nilai budaya Lampung ini, yang berakar pada adat dan tradisi, terwujud dalam jejak arsitektur kuno, warisan seni, hingga kekayaan kulinernya di pusat kota Bandar Lampung.
Sisi 1: Tapis—Warisan Keagungan Budaya Lampung
Kain Tapis bukanlah sekadar cenderamata. Ia adalah mahakarya seni tekstil yang sarat makna, dan merupakan representasi visual paling kuat dari budaya Suku Lampung. Kesenian Tapis inilah yang menjadi inspirasi bagi semboyan kota, menempatkan warisan budaya di posisi sentral pembangunan kota.
Tapis: Seni Menyulam Kehormatan
Kain Tapis dibuat dengan teknik tenun tradisional dan dihiasi dengan sulaman benang emas dan perak yang rumit, membentuk motif-motif geometris, flora, dan fauna yang kaya simbol. Dalam budaya Lampung:
-
Simbol Status: Tapis umumnya dikenakan pada acara-acara adat penting, seperti pernikahan, upacara pemberian gelar, atau pertemuan adat. Tingkat kerumitan dan jumlah benang emas sering kali menunjukkan status sosial pemakainya.
-
Wujud Kreativitas Lokal: Motif-motifnya menceritakan kosmologi dan kepercayaan lokal, seperti motif perahu (melambangkan perjalanan hidup) atau motif naga (melambangkan kekuasaan).
-
Warisan Generasi: Proses pembuatannya yang memakan waktu lama menjadikannya warisan turun temurun, mencerminkan ketekunan dan ketelitian perempuan Lampung.
Di Bandar Lampung, kita dapat menemukan pusat-pusat kerajinan Tapis dan toko-toko yang menjual kain ini, menjadikannya salah satu produk ekonomi kreatif unggulan yang mempromosikan identitas lokal kepada para pendatang yang tiba di Pintu Gerbang Sumatera ini.
Sisi 2: Jejak Arsitektur dan Spiritualitas Kuno
Identitas budaya suatu daerah juga tercermin melalui bangunan bersejarahnya, baik yang bersifat adat maupun religius. Di jantung Bandar Lampung, terdapat beberapa peninggalan arsitektur yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan akulturasi budaya.
1. Nuwo Sesat: Rumah Adat dan Pusat Musyawarah
Nuwo Sesat adalah rumah tradisional Lampung. Kata Nuwo berarti rumah, dan Sesat berarti tempat bermusyawarah atau adat. Ini adalah bangunan yang mencerminkan sistem sosial dan pemerintahan adat Lampung.
-
Fungsi: Nuwo Sesat berfungsi sebagai balai pertemuan atau balai adat tempat para penyimbang (pemuka adat) berkumpul untuk membahas masalah komunitas dan melaksanakan upacara adat.
-
Arsitektur: Ciri khasnya adalah memiliki atap yang disebut rurung agung dan ornamen perahu yang ditempatkan di bagian atas. Ini mengingatkan pada motif perahu di Tapis, melambangkan perjalanan masyarakat Lampung.
-
Kedaton Keagungan: Walaupun Bandar Lampung adalah kota modern, beberapa upaya pelestarian dilakukan. Salah satunya adalah keberadaan Rumah Adat Kedaton Keagungan milik Bapak Mawardi Haririma. Tempat ini menjadi semacam museum hidup di Way Halim, di mana masyarakat dapat melihat langsung bentuk arsitektur Nuwo Sesat dan merasakan denyut budaya Lampung yang berusia ratusan tahun.
2. Masjid Al Yaqin: Simbol Keragaman dan Sejarah Religius
Melangkah ke ranah spiritual, Bandar Lampung memiliki Masjid Al Yaqin, salah satu masjid tertua yang ada. Terletak di Pasar Bawah, masjid ini didirikan pada tahun 1923.
-
Pendiri: Masjid ini dibangun oleh para perantau Muslim asal Bengkulu, menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-20, Bandar Lampung telah menjadi kota multi-etnis yang terbuka bagi pendatang.
-
Peran Sosial: Masjid ini bukan hanya tempat ibadah tetapi juga pusat kegiatan sosial dan pendidikan Islam bagi komunitas di Telukbetung dan sekitarnya.
-
Signifikansi Sejarah: Keberadaannya di tengah kawasan perdagangan membuktikan bahwa Islam dan aktivitas niaga telah berjalan beriringan di Bandar Lampung selama lebih dari satu abad.
Jejak arsitektur Nuwo Sesat dan Masjid Al Yaqin menunjukkan bahwa nilai adat dan nilai spiritual telah menjadi pilar penting yang membentuk karakter masyarakat Bandar Lampung.
Sisi 3: Tradisi Kuliner dan Kearifan Lokal
Warisan budaya Lampung juga paling nikmat dirasakan melalui lidah. Kuliner khas daerah ini tidak hanya lezat, tetapi juga menceritakan tentang hasil bumi dan cara hidup masyarakatnya.
1. Keunikan Seruit dan Sambal Tempoyak
-
Seruit: Ini adalah hidangan khas Lampung yang harus disantap bersama-sama (sering disajikan dalam wadah besar), merefleksikan nilai kekeluargaan dan kebersamaan (gotong royong) masyarakat Lampung. Seruit adalah perpaduan lauk (biasanya ikan bakar atau goreng) yang dicampur dengan berbagai sambal dan tempoyak.
-
Sambal Tempoyak: Dibuat dari fermentasi durian. Penggunaan tempoyak menunjukkan kearifan lokal dalam mengolah dan mengawetkan hasil bumi yang berlimpah (durian), seperti yang juga ditemukan di kawasan perbukitan Batu Putuk.
-
Oleh-Oleh Khas: Selain makanan berat, Kopi Lampung adalah komoditas andalan provinsi ini. Bandar Lampung, sebagai pusat distribusi, menjadi tempat terbaik untuk menikmati kopi robusta Lampung yang terkenal kuat dan aromatik.
2. Akulturasi Pasar dan Komunitas
Pasar tradisional di Bandar Lampung, seperti Pasar Tengah dan Pasar Bawah, adalah cerminan hidup dari akulturasi budaya. Di sini, hasil bumi dari pedalaman bertemu dengan produk maritim dari pesisir Telukbetung. Interaksi antar suku (Lampung, Jawa, Sunda, Minang, hingga Tiongkok) membentuk corak sosial yang dinamis, sesuai dengan statusnya sebagai kota pelabuhan yang terbuka.
Kearifan lokal (seperti gotong royong dan musyawarah) inilah yang menjadi fondasi bagi kehidupan masyarakat, menjaga kota tetap "berseri" (bersih, rapi, indah) di tengah hiruk pikuk pembangunan.
Penutup: Spirit Tapis Berseri untuk Masa Depan
Melalui penelusuran sejarah, alam, dan budaya, kita menyadari bahwa Bandar Lampung adalah kota yang memiliki pondasi kuat. Semboyan Tapis Berseri adalah visi yang menyatukan masa lalu dan masa depan: mempertahankan martabat budaya (Tapis) sambil berjuang menjadi kota yang modern dan berkelanjutan (Berseri).
Dari keelokan Tapis yang menyala, keagungan Nuwo Sesat sebagai pusat kearifan, hingga aroma kopi Lampung yang kuat, Bandar Lampung terus membuktikan dirinya bukan hanya sebagai gerbang logistik Pulau Sumatera, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan yang dinamis dan patut dibanggakan.
Baca juga: Update Harga Fabrikasi Konstruksi Baja per Kg Honglu Group 2025 Update Harga Fabrikasi Konstruksi Baja per Kg Honglu Group 2025 — Panduan Profesional & Paling Akurat Menentukan harga fabrikasi konstruksi baja per kg Honglu Group sering kali menjadi tantangan bagi pemilik proyek, kontraktor, maupun perusahaan industri yang sedang merencanakan pembangunan skala kecil hingga besar. Tanpa pemahaman |